Abraham Lincoln dilahirkan dari keluarga petani di pedalaman Kentucky pada 1809. Ketika berusia 5 tahun membantu ayahnya menebarkan biji semangka di sawahnya. Tidak lama kemudian biji semangka tersebut dibawa air, ia menangis. “Janganlah menangis Nak, kita kerjakan lagi. Jangan perdulikan kesulitan apapun, kita tidak boleh menyerah. Kita harus mencoba hingga berhasil, inilah jiwa yang harus dimiliki seorang pionir” kata ayahnya.

Abraham Lincoln tumbuh di lingkungan yang sulit, terpaksa harus berhenti dari sekolah ketika baru menguasai 26 huruf dan 10 angka. ”Selamat tinggal Pak Guru!. Saya sebenarnya masih ingin belajar lebih banyak” katanya kepada gurunya. Ia harus mengikuti orangtuanya pindah rumah. ”Tanah ini bukan bukan milik kita lagi, kita terpaksa harus pindah” kata ayahnya.

Ketika usianya 9 tahun, ibunya sakit keras terserang penyakit susu. Ibunya berpesan ”Sarah, kau harus menjaga adikmu dan kau Abra, Ibu tidak bisa lagi membacakan kitab suci buatmu! Jadilah Satria”. Sesaat kemudian ”Ibu-ibu………” pekik tangis Abraham sambil memeluk ibunya yang telah meninggalkannya selamanya. Kini Sarah dan Abraham dibesarkan tanpa ibu. Kesepian menyelimuti keduanya. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pergi. Mereka berdua tinggal di rumah, tidak tahu ayahnya akan kemana dan kapan kembali. Kehidupan yang sulit harus dihadapi Sarah dan Abraham.

Abraham Lincoln

Tiga minggu kemudian, ayahnya tiba membawa ibu baru dan saudara baru dan mulailah kesepian itu berubah menjadi keceriaan. Semangat hidup timbul kembali dan akhirnya melanjutkan sekolah. Pulang sekolah ia membantu keluarganya. Tetangganyapun terkesima melihat kerja keras Abraham. Akhirnya meminta untuk membantu dengan diberi sedikit imbalan. Setelah Abraham mengenal tulisan, kemana-mana ia membawa buku. Buku yang ia idam-idamkan adalah riwayat George Washington, Presiden Amerika yang pertama. Pada usia 17 tahun, kakak yang paling dicintainya, Sarah meninggal dunia. Duka tak pernah lepas dari Abraham Lincoln.

Untuk membantu kebutuhan keluarga Abra bekerja apa saja. Pada awalnya Abraham Lincoln bekerja sebagai pemotong rel kereta api, pengemudi kapal laut, penjaga toko, pengantar pos dan juru ukur sebelum menjadi pengacara. Abraham Lincoln merupakan peminpin yang belajar dari kegagalan. Kegagalan pertama dimulai ketika ia berbisnis pada 1931. Kalah di Badan Legislatif pada 1832. Pada 1833, mengalami kegagalan kembali dalam bisnisnya dan mengalami patah semangat pada 1836. Abraham Lincoln gagal menduduki dewan pemilih pada 1840 dan gagal menjadi anggota Konggres pada 1846 serta gagal menjadi anggota Dewan Senat 1855. Pada 1856, Lincoln gagal menjadi Presiden dan gtagal menjadi Dewan senat pada 1858. Akhirnya dilantik menjadi Presiden Amerika ke-16 dan salah seorang Presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

Jika saat ini Anda sedang menghadapi tekanan dan penderitaan yang disebabkan lingkungan Anda, bertahan dan teruslah berjuang. Percayalah penderitaan yang kita alami merupakan sebuah proses untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik.